SOLUSI CERDAS MENCAPAI KEBAHAGIAAN
Contact Tables

I edited my layout at Bigoo.ws, check out these Myspace Layouts!

Senin, 28 Desember 2009

Seri Psikologi

TANTANGAN PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

Oleh: Armai Arief

Era pasar bebas, atau yang biasa disebut dengan era globalisasi sering didengungkan oleh para pemerhati ekonomi sejak beberapa dekade lalu hingga sekarang ini. Kata “globalisasi” secara populer dapat diartikan menyebarnya segala sesuatu secara sangat cepat ke seluruh dunia.

Robertson dalam Globalization: Social Theory and Global Culture (London, Sage: 1992) mendefinisikan globalisasi sebagai “the compression of the world into a single space and the intensification of conciousness the world as a whole”. Globalisasi juga melahirkan global culture (which) is encompassing the world at the international level.

Globalisasi sebagai sebuah proses mempunyai sejarah yang panjang. Globalisasi meniscayakan terjadinya perdagangan bebas dan dinilai menjadi ajang kreasi dan perluasan bagi pertumbuhan perdagangan dunia, serta pembangunan dengan sistem pengetahuan. Hal ini berarti bahwa terjadinya perubahan sosial yang mengubah pola komunikasi, teknologi, produksi dan konsumsi serta peningkatan paham internasionalisme merupakan sebuah nilai budaya.

Terjadinya era globalisasi memberi dampak ganda; dampak yang menguntungkan dan dampak yang merugikan. Dampak yang menguntungkan adalah memberi kesempatan kerjasama yang seluas-luasnya kepada negara-negara asing. Tetapi di sisi lain, jika kita tidak mampu bersaing dengan mereka, karena sumber daya manusia (SDM) yang lemah, maka konsekuensinya akan merugikan bangsa kita.

Oleh karena itu, tantangan kita pada masa yang akan datang ialah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor, baik sektor riil maupun moneter, dengan mengandalkan pada kemampuan SDM, teknologi, dan manajemen tanpa mengurangi keunggulan komparatif yang telah dimiliki bangsa kita.

Terjadinya perdagangan bebas harus dimanfaatkan oleh semua pihak dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek pendidikan, di mana pendidikan diharuskan mampu menghadapi perubahan yang cepat dan sangat besar dalam tentangan pasar bebas, dengan melahirkan manusia-manusia yang berdaya saing tinggi dan tangguh. Sebab diyakini, daya saing yang tinggi inilah agaknya yang akan menentukan tingkat kemajuan, efisiensi dan kualitas bangsa untuk dapat memenangi persaingan era pasar bebas yang ketat tersebut.

SDM yang tangguh, menurut Muslimin Nasution (1998), adalah SDM yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Tugas pendidikan, selain mempersiapkan sumber daya manusia sebagai subjek perdagangan bebas, juga membina penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang nyatanya sangat berperan dalam membantu dunia usaha dalam upaya meningkatkan perekonomian nasional.


A. Karakteristik Era Globalisasi

Era globalisasi akan ditandai dengan persaingan ekonomi secara hebat berbarengan dengan terjadinya revolusi teknologi informasi, teknologi komunikasi, dan teknologi industri. Persaingan ini masih dikuasai oleh tuga raksasa ekonomi yaitu Jepang dari kawasan Asia, Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Masing-masing menampilkan keunggulan yang dimiliki. Amerika misalnya unggul dalam product technology, yaitu teknologi yang menghasilkan barang-barang baru dengan tingkat teknologi yang tinggi, contoh pembuatan pesawat terbang supersonik, robot, dan lain-lain.

Jerman dan Jepang mengandalkan kelebihan mereka dalam process technology yaitu teknologi yang menghasilkan proses baru dalam pembuatan suatu jenis produk yang sudah ada, misalnya CD (compact disc) pertama kali dibuat oleh Belanda kemudian terus disempurnakan oleh Jepang sehingga menghasilkan CD dengan kualitas yang lebih bagus dan harga lebih murah. Selain ketiganya, belakangan muncul Cina sebagai kekuatan baru ekonomi dunia dengan pertumbuhan ekonominya di atas 9 persen –suatu jumlah tertinggi di dunia.

Kompetisi ekonomi pada era pasar bebas juga ditandai dengan adanya perjalanan lalu lintas barang, jasa, modal serta tenaga kerja yang berlangsung secara bebas, kemudian adanya tuntutan teknologi produksi yang makin lama makin tinggi tingkatannya, sehingga makin tinggi pula tingkat pendidikan yang dituntut dari para pekerjanya.

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kemajuan teknologi komunikasi menyebabkan tidak adanya jarak dan batasan antara satu orang dengan orang lain, kelompok satu dengan kelompok lain, serta antara negara satu dengan negara lain. Komunikasi antar-negara berlangsung sangat cepat dan mudah. Begitu juga perkembangan informasi lintas dunia dapat dengan mudah diakses melalui teknologi informasi seperti melalui internet. Perpindahan uang dan investasi modal oleh pengusaha asing dapat diakukan dalam hitungan detik.

Kondisi kemajuan teknologi informasi dan industri di atas yang berlangsung dengan amat cepat dan ketat di era globalisasi menuntut setiap negara untuk berbenah diri dalam menghadapi persaingan tersebut. Bangsa yang yang mampu membenahi dirinya dengan meningkatkan sumber daya manusianya, kemungkinan besar akan mampu bersaing dalam kompetisi sehat tersebut.

Di sinilah pendidikan -- termasuk pendidikan Islam -- diharuskan menampilkan dirinya, apakah ia mampu mendidik dan menghasilkan para siswa yang berdaya saing tinggi (qualified) atau justru mandul dalam menghadapi gempuran berbagai kemajuan dinamika globalisasi tersebut.

Dengan demikian, era globalisasi adalah tantangan besar bagi dunia pendidikan. Dalam konteks ini, Khaerudin Kurniawan (1999), memerinci berbagai tantangan pendidikan menghadapi ufuk globalisasi.

Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan berkelanjutan (continuing development ).

Kedua, tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi struktur masyarakat, dari masyarakat tradisional-agraris ke masyarakat modern-industrial dan informasi-komunikasi, serta bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM.

Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu meningkatkan daya saing bangsa dalam menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas sebagai hasil pemikiran, penemuan dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Keempat, tantangan terhadap munculnya invasi dan kolonialisme baru di bidang Iptek, yang menggantikan invasi dan kolonialisme di bidang politik dan ekonomi.

Semua tantangan tersebut menuntut adanya SDM yang berkualitas dan berdaya saing di bidang-bidang tersebut secara komprehensif dan komparatif yang berwawasan keunggulan, keahlian profesional, berpandangan jauh ke depan (visioner), rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi serta memiliki keterampilan yang memadai sesuai kebutuhan dan daya tawar pasar.

Kemampuan-kemampuan itu harus dapat diwujudkan dalam proses pendidikan Islam yang berkualitas, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berwawasan luas, unggul dan profesional, yang akhirnya dapat menjadi teladan yang dicita-citakan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Pertanyaan selanjutnya, apakah yang harus dilakukan oleh dunia pendidikan Islam? Untuk menjawabnya, agaknya kita perlu menengok kerangka pendidikan Islam dalam konteks kenasionalan. Sehingga kita bisa menyiapkan strategi yang tepat menghadapi sebuah tantangan sekaligus peluang tersebut.

Secara kuantitas, perkembangan jumlah peserta didik pendidikan formal Indonesia mulai dari tingkat TK hingga jenjang perguruan tinggi (PT) mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Namun secara kualitas masih tertinggal jauh ketimbang negara-negara lain, baik negara-negara maju, maupun negara-negara anggota ASEAN sekalipun.

Institusi pendidikan Islam dituntut mampu menjamin kualitas lulusannya sesuai dengan standar kompetensi global --paling tidak mampu mempersiapkan anak didiknya terjun bersaing dengan para tenaga kerja asing-- sehingga bisa mengantisipasi membludaknya pengangguran terdidik. Di sini harus diakui, lembaga-lembaga pendidikan Islam ternyata belum siap menghadapi era pasar bebas. Masih banyak yang harus dibenahi; apakah sistemnya ataukah orang yang terlibat di dalam sistem tersebut.





B. Sumber-sumber Kelemahan Bersaing Pendidikan

Pemerintah, sebagai pemegang kebijakan pendidikan seharusnya memberikan sumbangan yang besar dalam mensukseskan program pendidikan. Sebab di antara kelemahan-kelemahan sistem pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya politcal will pemerintah dalam menangani permasalahan pendidikan ini.

Menurut Arief Rahman (2002), setidaknya ada sembilan titik lemah dalam aplikasi sistem pendidikan di Indonesia:

1. Titik berat pendidikan pada aspek kognitif

2. Pola evaluasi yang meninggalkan pola pikir kreatif, imajinatif, dan inovatif

3. Sistem pendidikan yang bergeser (tereduksi) ke pengajaran

4. Kurangnya pembinaan minat belajar pada siswa

5. Kultur mengejar gelar (title) atau budaya mengejar kertas (ijazah).

6. Praktik dan teori kurang berimbang

7. Tidak melibatkan semua stake holder, masyarakat, institusi pendidikan, dan pemerintah

8. Profesi guru/ustadz sekedar profesi ilmiah, bukan kemanusiaan

9. Problem nasional yang multidimensional dan lemahnya political will pemerintah.

Untuk mengantisipasi berbagai kelemahan pendidikan tersebut, diperlukan kerjasama pelbagai pihak. Tidak hanya institusi pendidikan tetapi pemerintah juga harus serius dalam menangani permasalahan ini agar SDM Indonesia memperoleh rating kualitas pendidikan yang memadai. Untuk itu hendaknya dilakukan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, orientasi pendidikan harus lebih ditekankan kepada aspek afektif dan psiko motorik. Artinya, pendidikan lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter peserta didik dan pembekalan keterampilan atau skill, agar setelah lulus mereka tidak mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan daripada hanya sekadar mengandalkan aspek kognitif (pengetahuan).

Kedua, dalam proses belajar mengajar guru harus mengembangkan pola student oriented sehingga terbentuk karakter kemandirian, tanggung jawab, kreatif dan inovatif pada diri peserta didik.

Ketiga, guru harus benar-benar memahami makna pendidikan dalam arti sebenarnya. Tidak mereduksi sebatas pengajaran belaka. Artinya, proses pembelajaran peserta didik bertujuan untuk membentuk kepribadian dan mendewasakan siswa bukan hanya sekedar transfer of knowledge tapi pembelajaran harus meliputi transfer of value and skill, serta pembentukan karakter (caracter building).

Keempat, perlunya pembinaan dan pelatihan-pelatihan tentang peningkatan motivasi belajar kepada peserta didik sehingga anak akan memiliki minat belajar yang tinggi.

Kelima, harus ditanamkan pola pendidikan yang berorientasi proses (process oriented), di mana proses lebih penting daripada hasil. Pendidikan harus berjalan di atas rel ilmu pengetahuan yang substantif. Oleh karena itu, budaya pada dunia pendidikan yang berorientasi hasil (formalitas), seperti mengejar gelar atau titel di kalangan praktisi pendidikan dan pendidik hendaknya ditinggalkan. Yang harus dikedepankan dalam pembelajaran kita sekarang adalah penguasaan pengetahuan, kadar intelektualitas, dan kompetensi keilmuan dan keahlian yang dimilikinya.

Keenam, sistem pembelajaran pada sekolah kejuruan mungkin bisa diterapkan pada sekolah-sekolah umum. Yaitu dengan menyeimbangkan antara teori dengan praktek dalam implementasinya. Sehingga peserta didik tidak mengalami titik kejenuhan berfikir, dan siap manakala dituntut mengaplikasikan pengetahuannya dalam masyarakat dan dunia kerja.

Ketujuh, perlunya dukungan dan partisipasi komprehensif terhadap praktek pendidikan, dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan terhadap dunia pendidikan terutama masyarakat sekitar sekolah, sehingga memudahkan akses pendidikan secara lebih luas ke kalangan masyarakat.

Kedelapan, profesi guru seharusnya bersifat ilmiah dan benar-benar “profesional”, bukan berdasarkan kemanusiaan. Maksudnya, guru memang pahlawan tanpa tanda jasa namun guru juga seyogianya dihargai setimpal dengan perjuangannya, karena itu gaji dan kesejahteraan guru harus diperhatikan pemerintah.

Kesembilan, pemerintah harus memiliki formula kebijakan dan konsistensi untuk mengakomodasi semua kebutuhan pendidikan. Salah satunya adalah memperhatikan fasilitas pendidikan dengan cara menaikan anggaran untuk pendidikan minimal 20-25 % dari total APBN. Di sini diperlukan political will kuat dari pemerintah dalam menangani kebijakan pendidikan.

Jika kita mau jujur, berbagai kelemahan pendidikan kita seperti disebutkan di atas, pada dasarnya bertitik tolak pada lemahnya sumber daya manusia (SDM) yang ada. Padahal, SDM merupakan faktor utama yang menjadi indikator kemajuan suatu bangsa, di samping faktor sumber daya alam (SDA) (hayati, non hayati, buatan), serta sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi. Keberhasilan negara-negara Barat adalah didukung oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan hal itu berhubungan dengan pendidikan sebagai wahana pembentukan SDM.

Jadi, permasalahan lemahnya SDM Indonesia pada dasarnya berawal dari rendahnya tingkat pendidikan, lemahnya keahlian dan manajemen serta kurangnya penguasaan teknologi. Lemahnya SDM menyebabkan Indonesia kurang mampu bersaing dengan negara-negara lain, padahal secara fisiografis Indonesia termasuk negara yang memiliki kekayaan alam melimpah tetapi sayangnya tidak dikelola dengan baik karena kualitas SDM-nya yang kurang mendukung.

Sistem pendidikan sangat bergantung pada mutunya, seperti juga halnya barang dikatakan berkualitas dan mempunyai nilai jual yang tinggi karena memiliki mutu yang bagus. Ironis memang jika kita melihat nasib institusi pendidikan di Indonesia berdasarkan mutu pendidikan yang berada pada urutan terakhir di antara 12 negara Asia yang diteliti oleh The Political and Eonomic Risk Consultancy (PERC) tahun 2001, jauh di bawh Vietnam (6).

Hasil survei PERC itu mengacu pada tingkat kualitas lulusan pendidikan kita, dengan argumentasi, untuk mendapatkan tenaga kerja berkualitas tentunya sistem pendidikannya pun harus berkualitas.

Sistem pendidikan yang tidak berkualitas mempengaruhi rendahnya SDM yang dihasilkan, yang pada gilirannya tidak mampu membawa bangsa ini “duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi” dengan bangsa lain.

Lemahnya SDM pendidikan sebagai ekses sistem pendidikan yang tidak berkualitas, memunculkan fenomena masyarakat pekerja (worker society) bak jamur di musim hujan. Ini tentu berbeda dengan sistem pendidikan yang baik, yang memproduksi employee society.

Dalam konteks ini, Alvin Toffler dalam buku The Future Shock (1972) mengatakan, employee dan worker itu berbeda. (1) employee memiliki ciri untuk terus meningkatkan kemampuan teknis termasuk keterampilannya, sedangkan worker menggunakan keterampilan dan pengetahuan yang tetap; (2) employee dapat mengendalikan alat (mesin), sedangkan worker relatif dikendalikan oleh mesin; (3) mesin berkhidmat kepada employee, sedangkan worker berkhidmat kepada mesin; (4) employee pada dasarnya tidak perlu diawasi hanya perlu pembagian tanggung jawab, sedangkan worker harus diawasi melalui garis organisasi; dan (5) employee memiliki sarana produksi yaitu informasi, sedangkan worker tidak memilikinya.

Oleh karena itu, orientasi employee society harus dikedepankan dalam rangka mempersiapkan tenaga kerja ahli di bidang penguasaan teknologi. Karena pada milenium ketiga ini kita dihadapkan pada perubahan besar di bidang ekonomi, Iptek dan sosial budaya.

Kita seharusnya belajar dari Jepang dan Korea Selatan. Walaupun kedua negara tersebut miskin sumber daya alam (SDA), tetapi karena dukungan SDM yang kuat, kedua negara Asia Timur itu menjadi pioneer ekonomi dunia, khususnya di kawasan Asia.

Dalam konteks ini, masyarakat Jepang menurut H.D. Sudjana (2000) memiliki lima karakteristik khusus dalam sikap dan prilaku yang dipandang sebagai akar kekuatan bangsanya, yaitu:

Pertama, emulasi. Yaitu hasrat dan upaya untuk menyamai atau melebihi orang lain. Orang Jepang, baik selaku perorangan atau sebagai warga negara memiliki dorongan untuk tidak ketinggalan oleh orang, kelompok, atau bangsa lain.

Kedua, consensus. Yaitu kebiasaan masyarakat Jepang untuk berkompromi, bukan konfrontasi. Budaya kompromi ini menimbulkan rasa keterlibatan masyarakat yang kuat terhadap kepentingan bersama. Budaya inilah yang menjadi pengikat kuat yang menjadi pengikat dasar (root bindting) kehidupan masyarakat Jepang.

Ketiga, futurism. Yaitu mempeunyai pandangan jauh ke depan, masyarakat Jepang mempunyai keyakinan bahwa harkat individu akan naik apabila seluruh kelompok atau bangsa naik. Oleh karena itu kemajuan dan keberhasilan kelompok, masyarakat dan bangsa sangat diutamakan dalam upaya meningkatkan kemajuan individu.

Keempat, kualitas. Mutu adalah jaminan kualitas. Artinya dalam setiap proses dan hasil produksi di Jepang, mutu menjadi faktor penarik (full factors).

Kelima, kompetisi. Artinya sumber daya manusia dan produk bangsa Jepang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam tata kehidupan dan tata ekonomi global.


C. Pendidikan dan Kemampuan Bersaing Bangsa

Kemampuan bersaing pendidikan kita menghadapi era globalisasi ini sangat lemah dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini disebabkan karena masih lemahnya sumber daya manusia (SDM) yang ada.

Sebagai contoh kita bisa melihat Tenaga kerja Indonesia (TKI) maupun TKW yang “diekspor” adalah tenaga buruh, seperti: pembantu rumah tangga, perawat, buruh perkebunan, buruh bangunan, sopir dan pekerja kasar lainnya. Sedangkan tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia adalah kalangan pengusaha, investor dan pemilik perusahaan. Pekerja kita amat minim penguasaan pengetahuannya serta rendah kemampuan bahasa asingnya, terutama Bahasa Inggris.

Untuk melacak akar kelemahan SDM Indonesia ini bisa dilihat melalui wahana pendidikan. Dari sini secara logis dimunculkan pemikiran, untuk dapat bersaing dengan bangsa lain dalam memperebutkan lapangan kerja, maka yang harus dibenahi terlebih dahulu adalah sector pendidikan.

Pendidikan harus benar-benar diberdayakan oleh kita semua, sehingga nantinya, pendidikanlah yang akan mampu memberdayakan masyarakat secara luas. Masyarakat yang terberdayakan oleh sistem pendidikan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam konteks persaingan global.

Konsekuensinya, pendidikan harus dikonseptualisasikan sebagai suatu usaha dan proses pemberdayaan, yang benar-benar harus disadari secara kolektif, baik oleh individu, keluarga, masyarakat, lebih-lebih oleh pemerintah sebagai investasi masa depan bangsa.

Dengan demikian, pendidikan memegang peranan penting dan strategis dalam menghasilkan SDM yang akan membangun bangsa ini. Sikap ini tidak berarti mengecilkan peran sektor lain dalam pembangunan bangsa. Adanya sikap bahwa masa depan akan selalu penting dan strategis ini didasari oleh pertimbangan empirik bahwa selama ini dan juga untuk waktu yang akan datang, keberadaan sumberdaya manusia yang bermutu dalam arti seluas-luasnya akan semakin dibutuhkan bagi pembangunan bangsa.

Kualitas SDM yang diiringi moralitas dan integritas kebangsaan yang kuat: tidak korup, jujur, kreatif, antisipatif dan memiliki visi ke depan diasumsikan akan mempercepat bangsa ini keluar dari krisis yang berlarut-larut. Sebagai perbandingan, dengan dukungan sumber daya manusia yang kuat, negara-negara jiran kita seperti Malaysia, Thailand dan Filipina mengalami kemajuan pesat dalam upaya keluar dari krisis seperti yang dialami bangsa kita. Bahkan untuk kasus Malaysia, negara ini mampu memulihkan (recovey) kondisi ekonominya tanpa perlu mengandalkan bantuan IMF.

Selanjutnya, dalam sektor ekonomi, perkembangan perekonomian nasional, regional dan internasional yang begitu pesat seperti pasar modal, bursa efek, AFTA, NAFTA, APEC dan kesepakatan-kesepakatan ekonomi internasional yang lain, saat ini dan ke depan, semua itu akan menjadi kebutuhan bangsa kita.

Tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, juga akan mengalami pergeseran. Perilaku individualistik akan tumbuh lebih subur daripada rasa kebersamaan. Sementara itu, kehidupan demokratis akan lebih diterima masyarakat ketimbang perilaku yang otoriter. Perilaku egaliter secara vertikal dan horizontal akan lebih menonjol dibanding yang feodal dan paternalistik.

Keterbukaan (transparancy) akan diterima masyarakat. Di sisi lain, semangat nasionalisme dan kesemestaan harus dapat membawa kemajuan bangsa. Janganlah alasan nasionalisme menjadikan bangsa tidak bisa maju dan berkembang. Sebaliknya, semangat kesemestaan tidak dijadikan alasan bangsa ini tercabik dan terinveksi oleh virus globalisasi.

Semua itu, sekali lagi, memerlukan peran signifikan dan antisipasi pendidikan, apakah pendidikan kita mampu mengakomodasi dan memberikan solusi dalam upaya memajukan dan memenangkan kompetisi global yang keras dan ketat, ataukah justru terbelenggu dan asik dalam lingkaran globalisasi.

Baru 50% Prodi Terakreditasi

PURWOKERTO-Jumlah program studi (prodi) di perguruan tinggi yang terakreditasi di seluruh Indonesia hingga saat ini baru mencapai sekitar 50 persen atau hanya berkisar 7.500 prodi. Padahal, jumlah total yang ada saat ini mencapai 15.000 prodi.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Depdiknas Fasli Jalal berharap, pada 2012 semua prodi yang ada di seluruh perguruan tinggi di Indonesia sudah terakreditasi.

”Ketetapan tersebut sebenarnya sudah tertuang dalam PP No 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan,” katanya di Kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Kamis (24/12).
Selama ini, jelasnya, perguruan tinggi diberi waktu sekitar tujuh tahun sejak PP tersebut dikeluarkan untuk mendapatkan akreditasi.

Sebab, nantinya diharapkan semua lulusan harus berasal dari prodi yang terakreditasi.

”Jika prodi tersebut sangat parah kondisinya maka akan ditutup. Mahasiswa dan dosennya akan disalurkan ke perguruan tinggi lainnya. Namun, jika prodi tersebut potensial tapi belum memenuhi standar minimal, maka prodi di perguruan tinggi tersebut akan dicarikan pengampunya ke perguruan tinggi yang prodinya telah terakreditasi A,” jelasnya.
Ijazah Dari jumlah 7.500 perguruan tinggi yang belum terakreditasi, jelasnya, tahun ini diperkirakan ada sekitar 2.400 prodi yang akan diakreditasi dan sekitar 1.000 prodi nantinya akan segera menyusul.

”Tahun 2010 diharapkan ada 3.500 prodi yang terakreditasi. Untuk sisanya nanti pada 2011,” ujarnya.

Bagi prodi yang potensial, lanjutnya, ijazahnya akan dikeluarkan perguruan tinggi pengampu. Namun, batasan waktunya maksimal hanya berkisar 1-2 tahun pembinaan serta diberi waktu untuk mengajukan akreditasi kembali.

Jika tidak bisa mandiri dan mengajukan akreditasi, prodi itu akan ditutup.
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad

Merevolusi Pendidikan Berbasis Teknologi




TAK bisa dimungkiri, perkembangan teknologi saat ini mendorong terjadinya revolusi pada bidang pendidikan. Penguasaan teknologi harus menjadi salah satu tolak ukur kualitas pendidikan kita.

Fenomena sosial ini kemudian menuntut peningkatan kualitas profesionalisme para pendidik ataupun guru di sekolah. Siswa didik mendapatkan pengetahuan luas berbasis teknologi secara kontekstual, terarah serta up to date secara global.

Kuatnya arus teknologi merupakan implikasi dari dinamika zaman yang kini sedang berubah menuju ke tatanan global. Thomas L Friedman (2000) telah menegaskan kepada kita bahwa perubahan kualitas modal manusia bukan lagi bersifat otot, melainkan otak. Jika di zaman modern, mobilitas produksi hanya terfokus pada tenaga kuda dan mesin, maka di zaman posmodern (era teknologi global 3.0) justru telah bergeser kepada teknologi semacam internet dan WWW (world wide web) ataupun komputer.

Karena itulah masyarakat dituntut adaptif terhadap dunia yang semakin kaya akan informasi dan pengetahuan yang bergerak di dalam dunia virtual setiap detik. Ketertinggalan informasi di dunia virtual justru akan mengakibatkan ketertinggalan dalam aspek pendidikan. Sebab, di dunia maya itu terdapat banyak materi pelajaran yang sangat berharga bagi pengayaan proses pembelajaran peserta didik.

Seperti sejarah dunia, kewirausahaan (enterpreneurship), way of life, motivator learning, kondisi sosial, politik serta ekonomi bangsa, hingga teori-teori segala macam pelajaran. Hal apa yang tidak terakomodir dalam buku pelajaran di sekolah justru bisa didapat secara lengkap di internet. Apalagi, kini e-books disertai audio visual sudah membanjiri dunia maya. Siswa bisa belajar dari sana tanpa harus didampingi oleh guru di sekolah.

Guru atau pendidik yang tidak dapat berpacu dengan perkembangan teknologi semacam itu bisa dipastikan akan mengalami masalah. Guru akan bisa kalah dengan siswanya yang aktif meng-update pengetahuannya. Ini terkadang membuat para guru kehilangan kharisma dan wibawanya. Ambil kasus di Tiongkok misalnya. Di era 2005 silam, ada seorang guru yang bunuh diri karena dia tidak bisa menyaingi suatu pengetahuan siswanya yang didapat dari internet.

Di Jerman, ada seorang guru yang mengundurkan diri dari profesinya karena para siswa dianggap lebih pintar daripada dirinya. Bagaimana tidak lebih pintar, siswanya saja sudah membawa laptop ke sekolah dan suka mengakses internet pada saat jam istirahat (Nugroho, 2006). Sementara itu gurunya masih sibuk mengurusi proyek di sana-sini.

Itu sebabnya, di negara eropa dan negara maju ada fasilitas internet dan laptop gratis kepada guru dan pendidik. Bahkan, pemerintah di sana juga membantu biaya pendidikan warganya yang berniat menjadi guru secara penuh agar bisa memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni terutama dalam hal edukasi-teknologi. Tidak heran jika kelayakan mengajar dan kualitas kompetensi guru di negera Eropa dan maju sangat baik. Bahkan, untuk guru setingkat play group saja banyak yang sudah berijasah sarjana.

Ironi Guru

Di negeri kita, kondisi seperti di atas sungguh jauh berbeda. Masih banyak guru kita yang belum layak mengajar. Beradasarkan data Unesco beberapa waktu lalu, paling tidak ada 93% guru SD yang tidak layak mengajar, 33% guru SMP, serta 43% guru SMK/SMA. Salah satu indikatornya adalah gelar kesarjanaan yang mereka sandang. Ini jika diekplorasi lebih jauh, setidaknya sekitar 30% saja guru di negeri ini yang berijasah S1 dan DIV. Sungguh ironis.

Padahal, banyak orang mengatakan bahwa hampir 70% guru di negeri kita sudah bersertifikasi. Artinya, seyogyanya guru kita mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perkembangan teknologi informasi sekarang ini. Sertifikasi ini adalah simbol kemajuan dan keprofesionalitasan tenaga pendidik. Tolok ukur kemajuan ini bisa dilihat dari sejauh mana mereka mengikuti perkembangan zaman di era global. Sayangnya, di lapangan banyak ditemukan guru yang mendidikan dengan gaya yang tradisional.

Mereka lebih senang berceramah di depan kelas dan siswa hanya dicekoki materi pelajaran. Kapur, spidol, dan papan tulis masih menjadi primadona kebanyakan guru dalam mengajar siswanya. Sementara, OHP, Laptop, netbook, audio visual, koran dan tv elektronik, serta media pembelajaran yang hightech belum banyak digunakan oleh mereka di kelas.

Akibatnya, para siswa pun hanya mampu hapal teks pelajaran tetapi tidak paham esensinya secara nyata. Mereka pun hanya tahu tentang teori kemiskinan tapi tidak tahu yang dimaksud siapa orang miskin sesungguhnya itu dan apa pengaruhnya bagi dunia ekonomi, politik dan jati diri bangsa kita. Mereka juga tahu teori wirausaha, tapi masih meraba-raba apa sesungguhnya wirausaha di dalam kehidupan kita.

Kendala pembelajaran seperti itu bisa sedikit dipecahkan apabila setiap sekolah memiliki fasilitas ICT atau TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Seperti yang telah dilakukan pemerintah Amerika baru-baru ini. Ada program OLPC (Only Laptop Par Children) atau pemberian laptop bagi siswa sekolah. Revolusi edukasi berbasis teknologi ini digagas oleh ahli komputer dari MIT-AS, Nicholas Negroponte.

Namun, negeri kita masih dililit oleh krisis pendanaan kontruksi fasilitas edukasi di berbagai daerah. Jangankan membagikan laptop gratis untuk siswa dan guru, fasilitas laboratorium saja masih sangat terbatas dananya. Di Surabaya misalnya, hanya ada 22% laboratorium komputer dari total sekolah yang ada. Jadi, rasio komputer dengan siswa di sana hanya 1:61. Ini masih jauh dari rasio ideal 1:2.

Persoalan krusial seperti itu yang harus segera mungkin dipecahkan oleh semua komponen bangsa Indonesia demi membangkitkan kualitas pendidikan nasional kita di era teknologi. Setidaknya, pemerintah dan pihak swasta perlu mengalokasikan dana pembangunan dan pengembangan sarana pembelajaran yang berbasis teknologi tinggi bagi guru dan siswa di sekolah.

Mereka pula harus membantu menyekolahkan para guru yang masih belum sarjana agar bisa bersaing dengan bangsa lain.
Nah, bila semua kebutuhan pendidikan berbasis teknologi seperti itu sudah terpenuhi dengan maksimal, maka pendidikan bangsa kita tidak akan jauh tertinggal dengan bangsa lainnya di dunia. (80)

—Ardhie Raditya, M.A, sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unesa Surabaya

Melihat Karakter Wanita Berdasar Teknologi


Baru-baru ini World Computer Scientist Journal mengadakan survey terhadap para computer scientist tentang bagaimana cara mereka memandang wanita, hasilnya adalah sebagai berikut :

1. Tipe CPU:
pintar, pemikir, tidak banyak bicara tapi mengerjakan banyak hal, (diam- diam tau-tau sudah 7… bulan).

2. Tipe Monitor:
genit, senangnya diperhatikan, suka pamer, (padahal belum tentu yang dipamerin bagus).

3. Tipe Keyboard:
senang dipegang, ditekan dan dipencet di berbagai lokasi (awas, salah tekan bisa hang

4. Tipe Printer:
aktif, ditekan sedikit geraknya banyak, kalau sedang dipakai berisik, (nggak cocok di rumah type 21 ato’ RSS, mengganggu tetangga).

5. Tipe Mouse:
pas dan enak digenggam, dingin-dingin empuk!.

6. Tipe Windows:
tampak luar bagus, dalamnya penuh bugs.

7. Tipe Linux-Console:
tampak luar jelek, dalamnya ‘handal.’

8. Tipe XWindow:
luar dalam bisa dihandalkan.

9. Tipe DOS :
wajah tidak cantik, belum tentu hatinya baik!

10. Tipe UNIX:
diam-diam, multi user.

11. Tipe PLC:

badan besar dan kekar, Mampu bekerja di tempat kotor, 24 jam sehari, 365 hari setahun nonstop selama 30 tahun.

12. Tipe Windows NT:
multi user, previlleges bisa costumized.

13. Tipe Windows Vista:
selalu up to date, exclusive, nggak sembarangan terima cowoq, apalagi bajakan… dan terkini…

14. Tipe Windows 7:
mirip dengan Windows Vista namun flexible, menerima laki-laki atau perempuan… yang penting kasih sayang…

Kacamata Terbaru|Kacamata Penerjemah Bahasa


Bahasa seringkali menjadi kendala saat seseorang berkomunikasi dengan orang dari negara lain. Sebuah ‘kacamata‘ penerjemah akan memudahkan dalam berkomunikasi. Seperti apa sih? Adalah NEC, sebuah perusahaan teknologi Jepang yang membesut alat tersebut. Berbentuk menyerupai kacamata, namun tanpa lensa, Tele Scouter-demikian nama alat ini- akan membantu orang yang mengenakannya untuk memahami bahasa lawan bicaranya.

Syaratnya, kedua orang yang sedang bercakap-cakap harus mengenakan kacamata ini. Hasil terjemahan akan tersedia secara cepat melalui suara dan teks, seperti layaknya subtitle dalam film. “Anda dapat membuat percakapan terus mengalir. Alat ini dapat digunakan dalam pembicaraan penting” .
ujar pejabat pengembangan pasar NEC, Takayuki Omino seperti dikutip detikINET dari AFP.

Dengan kehadiran alat ini, kedua pihak yang terlibat dalam pembicaraan tidak membutuhkan jasa seorang penerjemah manusia, sehingga kerahasiaan percakapan dapat lebih terjaga. Cara kerjanya, setiap ucapan pembicara akan ditangkap oleh mikrofon,diterjemahkan oleh software penerjemah dan
terjemahan akan tersedia, baik dalam bentuk teks maupun audio. Pengguna alat ini tetap masih bisa menatap lawan bicaranya karena teks terjemahan hanya akan diproyeksikan ke bagian retina.

Untuk tahap awal, Tele Scouter ini akan diluncurkan di Jepang, November tahun depan namun tanpa alat penerjemah. Tele Scouter tanpa penerjemah ini dapat digunakan oleh orang-orang di bagian penjualan dengan cara dihubungkan kamera, software pendeteksi wajah dan database klien toko untuk memberikan informasi tentang riwayat pembelian konsumen.
Sementara itu Tele Scouter yang dilengkapi dengan penerjemah rencananya baru akan diluncurkan di tahun 2011.

Minggu, 27 Desember 2009

NOKIA 1580i USB DRIVER



Price : Rp. 25.000,00
Kirim alamat email/pengiriman kami siap kirim dalam bentuk file atau cd
Call : Bayun Prasetyo 0281-7908267
Jl. Kober Gang Gunung Arjuna No. 12 RT02/01
Bobosan Purwokerto

Rabu, 25 November 2009

Manusia Pembelajar

Kita mampu melihat tentang kenyataan orang-orang disekeliling kita, apakah itu baik ataupun buruk. tapi akankah kita sudah sadar dengan diri kita sendiri, tentang realisasi dari kenyataan hidup. sudah seimbangkah diri kita dengan apa yang ada dalam diri kita. untuk apa kita hidup dengan dalih-dalih kebenaran yang kuat, kalo kenyataan yang ada membuat orang lain tidak mampu tersenyum sedikitpun, tertidur dalam kesunyian dan berlari dalam kegelapan, saya berharap dengan motivasi ini mampu membuka cakrawala. dimana apa yang terjadi dalam diri saya tidak terjadi kepada rekan-rekan pembaca blog saya. Aminnnn............1

Dilematisasi Marketing

Di satu sisi kita berpikir bagaimana menghargai seorang pimpinan dan sisi lain bagaimana kita harus mampu berpikir untuk bagaimana menghargai konsumen, namun apakah dalam kondisi tersebut kita sudah mampu menyeimbangkan semuanya, atau hanya kita justru mati oleh kedua. alangkah bijaknya, ketika seserong berpikir dengan hatinya,
bagaimana dia mampu menempatkan diri di tempat yang semesti, tapi akankah kita sudah sadar dengan semua itu.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Satu Mata Satu Telinga

Manusia boleh belajar tentang diri mereka sendiri, tetapi mereka harus sadar bahwa disekeliling mereka ada alam, ada kehidupan dan manusia lain. dimana kita harus benar-benar berinteraksi dan sadar bahwa itu sma pasti kita membutuhkannya, jadi pandanglah secara nyata, hidup ini dengan satu mata terbuka dan satu telinga tuk benar-benar terbuka dengan kenyataan yang ada...

Senin, 21 September 2009

15 Langkah mengambil keputusan tepat & akurat

Memutuskan sesuatu yang penting bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika keputusan tersebut merupakan keputusan yang menentukan gerak bisnis perusahaan. Anda butuh waktu lama untuk mengambil keputusan yang terbaik. Tak jarang Anda dilanda “pusing tujuh keliling” karena ketika masih berpikir, Anda sudah dipaksa membuat keputusan secepatnya.

Untuk Anda yang sedang berpikir untuk mengambil keputusan, coba deh tips singkat berikut:

1. Jangan takut mengambil keputusan. Beberapa orang takut mengambil keputusan. Akibatnya bukan kita yang mengambil keputusan tapi keadaanlah yang memberikan keputusan kepada kita.

2. Jangan mengambil keputusan secara emosional, tapi gunakanlah pertimbangan yang matang. Dengan demikian kita mampu berpikir secara rasional dan menghitung plus minus dari setiap keputusan yang hendak kita ambil.

3. Untuk menghasilkan keputusan yang cepat, Anda tidak perlu menunda-nunda waktu karena keputusan tidak bisa hanya melalui proses satu malam saja. Awasi setiap perkembangan yang mungkin akan mengubah keputusan Anda sewaktu-waktu.

4. Gunakan analisa yang tajam dalam mengolah data yang sudah susah payah Anda kumpulkan. Ambil keputusan yang paling bijaksana dan memiliki risiko paling kecil. Anda juga masih perlu mengawasi pelaksanaan keputusan tersebut satu demi satu.

5. Pastikan Anda mengetahui batas terakhir (deadline), kapan keputusan itu harus ditetapkan. Setelah itu tentukan deadline untuk diri sendiri, kapan keputusan tersebut sudah harus Anda buat. Catat tanggal yang Anda tentukan sebagai batas deadline.

6. Tetapkan dengan jelas kriteria atau kualifikasi keputusan yang harus Anda ambil. Misalnya keputusan tersebut harus menguntungkan karyawan dan perusahaan atau keputusan tersebut tidak memberatkan semua pihak.

7. Kumpulkan informasi dan data penting yang mempengaruhi hasil keputusan. Karena siapa tahu informasi tersebut diperlukan untuk bahan argumentasi. Jangan lupa menentukan batas waktu pengumpulan informasi.

8. Buatlah beberapa alternatif keputusan dari data dan informasi yang telah terkumpul. Pelajari dan pertimbangkan nilai atau bobot masing-masing alternatif tersebut, mana yang paling pas dan tepat.

9. Jangan sekalipun berlaku subjektif dalam mengambil keputusan. Artinya jangan memilih keputusan yang menguntungkan Anda atau sekelompok orang semata.

10. Ketika Anda telah mempelajari dan mempertimbangkan dengan matang alternatif keputusan tersebut, jangan ragu menentukan keputusan terbaik dari beberapa alternatif keputusan yang ada. Ingat, keragu-raguan hanya akan membuat keputusan yang sudah Anda ambil “mentah” kembali.

11. Umumkan keputusan yang Anda buat pada waktu yang tepat dan telah ditentukan. Pada saat mengumumkan keputusan ini pastikan bahwa Anda didukung oleh data yang kuat, akurat, dan relevan. Kalau perlu saat menyampaikannya, katakan bahwa keputusan ini dibuat atas pertimbangan dan pemikiran yang matang dan rasional.

12. Jangan takut memaparkan argumen Anda, seandainya ada pihak yang merasa keberatan. Jangan sampai komplain atau protes dari penerima keputusan membuat Anda berpikir untuk merubah keputusan yang telah Anda buat.

13. Dalam membuat keputusan, Anda memilih dari beberapa alternatif, bukan memilih mana yang salah atau mana yang benar. Jadi, tidak ada keputusan yang salah atau benar. Tapi keputusan yang diambil bisa saja hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Jadi, Anda tidak perlu menyesali keputusan yang telah diambil. Apa lagi terpaku pada penyesalan yang berlarut-larut ketika keputusan yang Anda ambil ternyata tidak memberikan hasil yang kita harapkan.

14. Setelah mengambil sebuah keputusan, apa pun hasilnya, Anda harus memantau terus, dan memfokuskan usaha Anda untuk melakukan yang terbaik dari apa yang telah diputuskan. Anda juga bisa melakukan berbagai penyesuaian agar hasilnya bisa diarahkan untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan bersama.

15. Dalam mengambil keputusan cepat, sedapat mungkin libatkan orang-orang yang terkait dengan keputusan yang diambil. Dengan melibatkan mereka, Anda bisa mendapat masukan yang berharga, selain itu, Anda bisa mengundang komitmen mereka untuk mendukung keputusan yang telah diambil. Yang bisa Anda lakukan antara lain adalah menanyakan pendapat dan usulan mereka. Informasi ini bisa dijadikan acuan untuk mengambil keputusan.

Nah, kalau keputusan itu sudah bulat, jangan sampai Anda sebagai pembuat keputusan mencemari konsekuensi keputusan yang telah ditetapkan bersama. Selamat mengambil keputusan[]

Berbagi Khasanah Umat

Manusia bisa berpikir antara kenyataan dan realistis antara hal yang semu dan yang nyata, karena perjalanan hidup manusia berada di antara keduanya hingga mereka merasa yakin dan bertanggung jawab atas sisa hidup mereka sendiri

Sabtu, 22 Agustus 2009

Solusi Melahirkan Tanpa Rasa Sakit

Home Edisi Cetak Kesehatan Solusi Melahirkan Tanpa Rasa Sakit
Solusi Melahirkan Tanpa Rasa Sakit
Friday, 23 November 2007 11:49
E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest
Article Index
Solusi Melahirkan Tanpa Rasa Sakit
Terapi Hipnotis
All Pages
Page 1 of 2

Benarkah waterbirth dan hypnobirthing bisa mengurangi rasa sakit dan aman dilakukan saat bersalin?
Persalinan dalam air (waterbirth)Artis penyanyi terkenal Oppie Andaresta menjalani persalinan dalam air awal Juli lalu. Dia melahirkan anak pertamanya di sebuah klinik bersalin di daerah Ubud, Bali. Menurut pengakuannya, rasa sakit melahirkan tidak terlalu dirasakannya. Sang bayi pun lahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat.

Melahirkan dalam air pada prinsipnya sama dengan persalinan normal seperti persalinan biasa di atas tempat tidur. Bedanya hanya media yang digunakan. Kolam plastik berisi air hangat digunakan untuk berendam sang ibu. Cara ini telah lama dipraktekkan di negara-negara Eropa, Amerika dan beberapa negara Asia. Di Indonesia, cara ini diperkenalkan sejak tahun 2006 di sebuah rumah bersalin di Jakarta. Sebelumnya, operasi caesar adalah alternatif bagi ibu yang takut rasa sakit bersalin secara normal. Walaupun tanpa indikasi medis yang kuat, operasi caesar dijalani agar terhindar dari rasa sakit. Bahkan beberapa tahun yang lalu, cara ini sempat menjadi tren tersendiri di kalangan para ibu khususnya para artis.

Dr. Tamtam Otamar Samsudin, SpOG, dokter yang pertama kali menolong persalinan dalam air, menjelaskan bahwa berkurangnya rasa sakit dan rasa nyamanlah yang membuat banyak ibu meminati jenis persalinan yang tergolong baru ini. Rata-rata pasien yang menjalaninya adalah ibu-ibu muda berumur 20-30 tahun. Biasanya melahirkan anak pertama atau kedua. Alasan memilih cara ini pada umumnya karena ibu takut mengalami rasa sakit yang hebat saat bersalin.

Terjadinya rasa sakit yang hebat disebabkan oleh ketakutan yang memicu tegangnya otot polos di dalam tubuh, pembuluh darah menyempit dan membuat pasokan oksigen menjadi berkurang. Mulut rahim menjadi kaku dan impuls rasa sakit di rahim bertambah. Berkurangnya rasa sakit terjadi karena adanya relaksasi otot-otot tubuh saat ibu berendam di dalam air hangat. Bibir vagina menjadi lebih elastis dan rileks sehingga robekan/pengguntingan bibir vagina dapat dihindari. Saat rileks, tubuh memproduksi hormon endorphin yang berguna untuk menghambat rasa sakit. Sakit bersalin pun berkurang 40-70 persen.

Lebih lanjut dokter yang telah berhasil membantu 68 persalinan dalam air ini, menjelaskan teknik waterbirth secara rinci. Ibu masuk ke dalam kolam plastik berisi air hangat dengan suhu 36-37 derajat Celcius. Saat ibu masuk, mulut rahim harus sudah pembukaan enam. Air kolam haruslah higienis untuk mencegah penularan kuman lewat media air. Air akan diisikan sampai sebatas dada si ibu.

Sifat air yang memiliki daya apung, secara tidak langsung mengurangi berat badan ibu sehingga ibu dapat bergerak bebas. Air juga bersifat menenangkan dan membuat ibu merasa nyaman. Hal ini penting karena bila ibu secara fisik rileks, mentalnya juga akan rileks dan dapat berkonsentrasi untuk mengejan. Suhu air yang hangat akan meningkatkan kontraksi rahim dan memperlancar aliran darah pada tubuh ibu.

Kelebihan lainnya, persalinan dalam air berjalan lebih cepat dibandingkan cara konvensional di atas tempat tidur. Sebagai perbandingan, bila persalinan biasa mulai dari pembukaan lima sampai pembukaan lengkap (yaitu pembukaan sepuluh) rata-rata terjadi delapan jam. Sedangkan bila si ibu berendam dalam air, tahap di atas dapat berlangsung sekitar setengah sampai dua jam.

Selain itu, bayi yang dilahirkan lewat proses persalinan dalam air memiliki tingkat stres dan trauma yang lebih kecil. Ini dimungkinkan karena saat ibu berendam dalam air hangat, otot panggul lebih rileks sehingga jalan lahir menjadi lebih lebar. Kepala bayi pun dapat keluar lebih mudah. Trauma atau cedera kepala yang minimal memungkinkan bayi memiliki IQ yang lebih tinggi dibanding bayi yang lahir dengan cara biasa. Di samping itu, suhu air kolam yang hampir sama dengan suhu air ketuban dalam rahim membuat bayi tidak mengalami stres. Di Amerika, bayi dikeluarkan dari air pada sepuluh detik pertama setelah lahir dan ditidurkan dalam gendongan ibu. Pada saat itu bayi masih bernafas dengan plasenta.

Perlu diperhatikan, risiko air kolam tertelan oleh bayi cukup besar. Apabila terjadi temperature shock saat bayi meluncur di dalam kolam, bayi akan terangsang bernafas dan dapat menelan air. Bila proses persalinan lama, hati-hati terhadap bahaya hipotermia (suhu tubuh terlalu rendah) pada ibu. Oleh karena itu, perlu tim yang terdiri dari dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dokter spesialis anak, bidan, yang mampu bekerja sama demi keselamatan ibu dan bayi.

Pada dasarnya persalinan dalam air aman dan cukup nyaman. Tetapi tidak semua ibu dapat menjalani cara ini. Ibu yang memiliki penyakit darah tinggi pada kehamilan/preeklampsia, menderita herpes atau HIV/AIDS, mengandung janin kembar, dan kehamilan sungsang tidak diperbolehkan menjalani cara persalinan jenis ini. Pengalaman di lapangan menunjukkan ada beberapa ibu yang gagal menjalaninya akibat tidak majunya pembukaan mulut rahim. Bila terjadi hal tersebut, operasi caesar adalah jalan terakhir.

Dengan berbagai manfaat dari teknik melahirkan yang tergolong baru di Indonesia ini, banyak ibu yang berminat menjalaninya. Bila Anda tertarik, Anda harus mempersiapkan dana persalinan lebih banyak dibandingkan dengan persalinan normal biasa. Di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan menawarkan persalinan waterbirth dengan harga sekitar delapan juta rupiah. DGR (BI 51)

Syarat Waterbirth:

1. Tidak memiliki penyakit infeksi seperti hepatitis, herpes, HIV/AIDS sebab dikhawatirkan kuman mengontaminasi air dalam kolam.
2. Tidak memiliki penyakit darah tinggi selama kehamilan/preeklampsia.
3. Tidak mengalami perdarahan atau riwayat perdarahan pada persalinan sebelumnya.
4. Tidak memiliki kelainan jantung dan kencing manis yang perlu penanganan khusus.
5. Tidak mengandung janin kembar.
6. Letak bayi tidak sungsang atau melintang.
7. Tidak ada lilitan tali pusat yang membahayakan bayi.

Hypno Selling

Oleh : Ronny FR

Belakangan soal hipnotis banyak diperbincangkan oleh praktisi pemasaran dan penjualan. Banyak workshop, seminar, atau pelatihan diadakan untuk membekali para praktisi mengembangkan kemampuan mereka. Adakah relevansi ilmu yang sedang “in” ini dengan dunia direct selling.

Sebenarnya apa pengertian hipnotis ?

Hipnotis berasal dari kata hypnos yang artinya tidur, namun hipnotis itu sendiri bukanlah tidur. Secara sederhana, yaitu fenomena yang mirip tidur, di mana alam bawah sadar lebih mengambil peranan dan alam sadar berkurang peranannya. Pada kondisi ini seseorang menjadi sangat sugestif (mudah dipengaruhi), karena alam bawah sadar yang seharusnya menjadi filter logic sudah tidak lagi mengambil peranan. Seseorang yang terhipnotis sebetulnya pada kondisi sangat terkonsentrasi yang sangat fokus.

Hipnotis sering diidentikkan dengan kejahatan gendam. Apa bedanya ?

Pada prinsipnya untuk mengakses alam bawah sadar seseorang bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik. Semisal teknik verbal (sugesti), teknik relaksasi progresif, teknik penggunaan energi, teknik visualisasi, dan teknik mistik (supranatural, baik ilmu hitam maupun putih). Semua teknik diatas disebut sebagai teknik hipnotis.

Pada umumnya kesuksesan penggunaan teknik hipnotis memerlukan kerjasama antara penghinotis dan yang dihipnotis. Artinya seseorang bisa saja menolak untuk dihipnotis dengan cara ini. Sebenarnya tidak ada yang namanya orang menghipnotis orang lain. Yang sebenarnya adalah seseorang menghipnosis diri sendiri dengan dibantu oleh orang lain (penghipnotis) sebagai fasilitatornya. Semua proses hipnotis adalah self hypnosis, yang dipandu (difasilitasi) oleh seorang penghipnotis.

Sedangkan untuk teknik mistik, tidak diperlukan kerjasama antara penghipnotis dengan yang dihipnotis. Di sini pelaku menggunakan kekuatan supranaturalnya untuk mengakses alam bawah sadar orang lain. Umumnya teknik ini dikenal sebagai ilmu gendam, cablek, dan lain-lain yaitu menggunakan azimat dan mantra tertentu yang diperoleh melalui laku (ritual atau prosesi mistis) tertentu.

Memang ada juga kejahatan yang menggunakan hipnotis dan tidak menggunakan ilmu gendam (mistik), namun menggunakan kekuatan kata-kata. Biasanya ini dilakukan pada orang yang mudah dibuat bingung, saat di terminal, dan keramaian.

Apakah ilmu hipnotis ini ada dasar ilmiahnya? Jelaskan !

Sejak tahun 1815, Abbe Jose Castodi de Faria, sudah melakukan penelitian hipnotis secara ilmiah. Dilanjutkan berbagai tokoh semacam Emile Coué, Dr. James Braid (1848), Milton Erickson, MD dan sebagainya. Tahun 1955, British Medical Association (sekarang disebut BHA atau British Hypnotherapy Association) mengesahkan hypnotherapy sebagai “valid medical treatment”. Tahun 1958, American Medical Association (AMA) men-support hypnotherapy untuk keperluan medis. Setelah 1950, banyak berdiri asosiasi profesional di berbagai negara.

Belakangan hipnotis dimanfaatkan sebagai salah satu teknik pengembangan diri. Apakah hal itu mungkin ?

Ya, jelas bisa. Pada umumnya, program pengembangan diri terkadang gagal karena individu tidak berhasil meyakinkan diri sendiri untuk berubah karena mengalami yang namanya “self-sabotage”. Proses self sabotage adalah proses di mana alam sadar menyabot proses mental yang tengah dilakukan seseorang pada saat ia ingin melakukan perubahan diri.

Misal: seseorang melakukan afirmasi di depan kaca dan mengatakan “Saya orang yang sukses” sebanyak 100 kali, namun setiap kali ia mengatakan itu, di sisi pikirannya terbersit suatu keraguan, kesangsian, “Masak sih, selama ini saya toh gagal….” Nah, pikiran ini berasal dari fungsi alam sadar yang terus-menerus mengontrol dan mengkritisi segala sesuatu yang masuk ke pikiran.

Jadi di sini, alam sadar justru mensabotase kehendak kita untuk berubah, dengan cara menyajikan berbagai “realitas” dan “fakta lampau” bahwa kita bukanlah orang yang sukses.

Saat ini sejumlah trainer atau coach menawarkan hipnotis untuk membantu para pemasar atau penjual. Apakah bisa ?

“Bisa!” Hipnotis bisa dimanfaatkan dalam dua aspek; pertama, menghipnotis si sales person untuk self improvement, dan kedua menghipnotis orang lain (customer) agar lebih percaya dengan si penjual.

Pertama, dalam pelatihan yang saya lakukan, misalnya saya menghipnotis trainee agar tidak fobia menelepon atau fobia prospecting. Hipnotis juga bisa membuatnya lebih percaya diri saat presentasi, lebih percaya akan goal pribadinya, lebih berenergi, dst.

Kedua, hipnotis verbal atau yang dikenal dengan teknik sugesti (indirect communication). Secara sederhana, teknik ini menggunakan pola-pola bahasa tertentu (hypnotic language pattern) untuk mengakses pikiran bawah sadar lawan bicara sehingga bisa dipengaruhi. Di sini seorang sales belajar menggunakan pola-pola kata yang berkekuatan sugesti untuk mempengaruhi prospek agar membeli.

Contoh yang sering dipakai didunia DS/MLM atau asuransi adalah yang disebut dengan “double binding”, yaitu mengarahkan pikiran prospek untuk memilih A atau B yang keduanya berarti membeli, dan jangan sampai berpikir tidak membeli. Misalnya, penjual bertanya: “Mau beli berapa kilo?”, “Mau dibawa sendiri atau diantar”, “Anda mau mengambil produk paket yang ada diskon tambahan atau memilih kombinasi produk sendiri?”, dan seterusnya.

Apakah hal itu tidak bertentangan dengan moral dan etika bisnis ?

Dengan menggunakan pola kata hipnotis, maka seseorang prospek akan menjadi lebih “lunak” dan sugestif sehingga ia mau menbeli produk atau jasa itu. Pada saat ia tahu bahwa produk atau jasa tadi ternyata memang dia sangat perlukan, maka ia akan berterima kasih. Disini jelas terlihat bahwa apabila seorang salesperson menjual produk atau jasa yang kualitasnya buruk, namun ia menggunakan bahasa hipnotis, maka ini tidak beda dengan bunuh diri. Karena cepat atau lambat kastemernya akan menyadari bahwa ia tidak mendapatkan janji seperti yang disampaikan si salesperson. Jadi penggunaan bahsa hipnotis untuk marketing atau sales seharusnya dalam batas koridor untuk membantu seseorang supaya berani dan siap untuk segera mengambil keputusan membeli.

Menurut anda, apakah hipnotis ini bisa benar-benar dimanfaatkan secara sehat dan maksimal dalam pengembangan bisnis seseorang?

Bisa! Gunakanlah hipnotis untuk menghipnotis diri Anda sendiri. Terutama untuk meng-install berbagai sikap positif, perilaku asertif, percaya diri, dll.

Hal apa yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku DS/MLM ?

Dalam dunia direct selling, beberapa tantangan terbesar seorang salesperson adalah :

1. Self motivating (selalu bisa memotivasi diri) dan self determination (punya goal yang jelas);

2. State management (selalu bisa mengelola kondisi pikiran dan mentalnya, yang akan menghadapi penolakan, keberatan, pelecehan, penghinaan dan ditinggalkan oleh grup).

3. Positive self image (selalu bisa melihat diri sendiri positif dan tidak melakukan self depreciation, atau self blaming, dst).

4. Positive Belief System (selalu percaya bahwa apa yang dijualnya adalah sesuatu yang positif, berguna, dan dalam rangka menolong orang lain supaya lebih baik, lebih mudah, lebih sukses kehidupannya - bukannya menjebak orang supaya membeli agar dirinya mendapat komisi.

5. Rapport Skill (selalu bisa memiliki kemampuan membina hubungan yang baik dengan mitra kerja dan prospek).

6. Persuasion skill dan handling objection.

Bisa dilihat, dari seluruh poin di atas, kita menggunakan hipnotis justru ditujukan pada diri si salesperson. Sedangkan hanya dua poin terakhir kita memanfaatkan pola bahasa hipnotis untuk mempengaruhi orang lain (dengan tujuan baik).

Saran anda bagi para penjual langsung yang ingin mencoba teknik hipnotis ini ?

Ikuti pelatihan atau dapatkan bimbingan dari coach atau trainer yang berlisensi jelas. Gunakan hipnotis untuk memperbaiki kualitas diri, jauh lebih penting dari pada untuk mempengaruhi prospek. Ingat pameo yang mengatakan “Prospect buy you, not your products”. Hindari membohongi prospek dengan cara apa pun, baik cara hipnotis maupun non hipnotis. Juallah produk yang memang berkualitas, sehingga tidak menjadi bumerang bagi Anda.

Perubahan Paradigma Hipnosis

Hipnotis dan fenomena semacam hipnotis sangat banyak ditemui dalam berbagai format, mulai dari hipnotis yang sangat moderen, sampai dengan ritual-ritual tradisional yang juga menimbulkan gejala hipnotis.

Tanya-jawab pada bagian ini akan membahas perkembangan pengetahuan hipnotis dari jaman ke jaman, serta berbagai penjelasan yang dapat memberikan pemahaman proses metamorfosa pengetahuan hipnotis dari sekedar suatu gejala yang sulit dipahami, hipotesa awal di masa mesmerisme, sampai dengan penyempurnaan formulasi yang mengantarkan hipnotis menjadi salah satu pengetahuan yang ilmiah.

Dari manakah asal muasal pengetahuan hipnotis ?

Tidak begitu diketahui kapan dan dimana fenomena hipnotis mulai dikenal manusia, yang jelas praktek hipnotis dengan berbagai istilah dan sebutan telah ada sejak ribuan tahun silam, tumbuh bersama kebudayaan kuno di berbagai belahan bumi dan dalam berbagai bentuk ekspresi, pada umumnya berupa ritual penyembuhan dan upacara keagamaan.

Apakah fenomena hipnotis dalam bentuk tradisional juga terdapat di Indonesia ?

Di Indonesia fenomena semacam hipnotis dalam bentuk tradisional dapat dengan mudah diketemukan di berbagai wilayah, antara lain kesenian kuda lumping di pulau jawa, permainan bambu gila di maluku, sampai dengan ritual tusuk keris di sulawesi dan pulau bali.

Lalu kapan hipnotis mulai berkembang menjadi suatu ilmu pengetahuan ?

Sebagian besar literatur menyepakati bahwa era ini dimulai pada abad ke-18, ketika Franz Anton Mesmer seorang intelektual yang berasal dari Austria melakukan penelitian dan membawanya kepada teori animal magnetism. Dari hasil penelitiannya Mesmer meyakini bahwa alam semesta memiliki energi magnet yang berpengaruh terhadap manusia. Berbagai penyakit ditimbulkan karena ketidak seimbangan jumlah magnet ini pada tubuh manusia.

Selanjutnya berdasarkan teori ini, Mesmer melakukan banyak penyembuhan dengan metode merangsang tubuh pasien dengan kepingan-kepingan magnet di bagian-bagian tertentu yang dianggap kekurangan energi magnet. Pada perkembangan berikutnya Mesmer bahkan melakukannya dengan tanpa magnet fisik, melainkan melalui tubuhnya sendiri yang diyakininya dapat menghasilkan daya magnet. Pada tahapan inilah Mesmer mulai menerapkan pola hipnotis walaupun ia tidak menyadarinya.

Metode hypnosis ala mesmer ini dikenal sebagai teknik mesmerisme ini nantinya akan memicu berbagai polemik sekaligus penelitian lebih lanjut dari para ilmuwan barat, yang kelak akan mempengaruhi arah selanjutnya dari pengetahuan hipnotis.

Kapan istilah hipnotis mulai dipergunakan ? Dan apakah kemudian terjadi perubahan teori dalam menyikapi peristiwa hipnotis ?

Dalam perkembangan berikutnya, banyak nama-nama ilmuwan yang meneliti fenomena hipnotis, antara lain James Braid seorang dokter Inggris yang sekaligus merupakan orang pertama yang memperkenalkan istilah “hypnosis”. Yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “hipnotis”.

James Braid mempercayai bahwa “keadaan hypnos” adalah suatu bentuk nervous sleep (tidur saraf) yang diakibatkan oleh perhatian terus menerus (fokus) pada objek tertentu.

Apakah teori James Braid yang menjadi teori dasar bagi hipnotis moderen ?

Bukan ! Setelah James Braid banyak ilmuwan lain yang melanjutkan penelitian fenomena hipnotis, antara lain : Ambroise Auguste Liebeault (Perancis), Jean Martin Charcot (Perancis), Pierre Janet (Perancis), dan masih banyak lainnya.

Pada era ini mulai diyakini bahwa fenomena hipnotis diakibatkan oleh kekuatan dari sugesti, dan dianggap sejak saat inilah hipnotis memulai bentuknya sebagai ilmu pengetahuan.

Berarti pengetahuan hipnotis yang terdapat pada saat ini dilandasi oleh teori yang disusun oleh Liebeault, Charcot, dan Pierre Janet ?

Tidak sepenuhnya, karena pada abad ke-20 terjadi berbagai studi yang membuat paradigma hipnotis menjadi sangat moderen dan efektif untuk diterapkan di berbagai hal.

Beberapa nama besar yang sangat berjasa dalam pengembangan pengetahuan hipnotis di abad-20 ini antara lain Milton H. Erickson, Dave Elman, Charles Tebbets, dan Ormond McGill, mereka semua berasal dari USA.

Siapakah Milton H. Erickson ?

Milton H. Erickson adalah seorang psikiater yang merupakan salah satu legenda besar di dunia hypnotherapy. Erickson merubah paradigma hypnotherapy dari pola authoritarian (otoriter) menjadi pola kerjasama antara hypnotherapist dengan klien.

Sepanjang hidupnya, hampir setiap hari Erickson melakukan hypnotherapy kepada klien dari berbagai kalangan. Dari pengalamannya dalam menangani ribuan klien, Erickson mengembangkan prinsip-prinsip baru dalam proses hipnotis maupun hypnotherapy yang kelak akan dikenal di dunia hypnotherapy moderen sebagai aliran ericksonian hypnotherapy.

Beberapa contoh dari pola ericksonian hypnotherapy adalah penggunaan induksi (sugesti untuk membawa klien ke keadaan hypnos) dalam gaya bahasa tidak langsung, penggunaan metafora dalam sugesti therapeutic, dan teknik-teknik yang menyebabkan proses disorientasi yang dikenal dengan istilah confusion method (metoda membingungkan).

Ericksonian hypnotherapy di kemudian hari juga menjadi salah satu pilar dari pengetahuan NLP (Neuro Linguistic Programming), teknik pemberdayaan diri yang dikembangkan pertama kalinya oleh John Grinder dan Richard Bandler.

Berarti pada saat ini hipnotis moderen berorientasi kepada kekuatan sugesti ?

Jawabannya ya dan tidak, karena pada saat inipun masih banyak yang meyakini pola mesmerisme, biasanya di kalangan stage hypnotist.

Mesmerisme merupakan suatu pola yang tidak dapat selalu dibuktikan, sehingga merupakan pola eksklusif yang tidak dapat dianalisa. Artinya untuk sebagian orang pola ini berhasil, sedangkan sebagian lainnya mungkin tidak, tanpa dapat dianalisa secara akurat.

Pola sugesti merupakan pola yang relatif lebih ilmiah, karena dapat dianalisa dengan bantuan pengetahuan komunikasi dan psikologi praktis. Oleh karena itu 90% pengajaran hipnotis moderen menerapkan pengetahuan yang berbasiskan kepada kekuatan sugesti.

Apakah contoh dari hipnotis yang berbasis Mesmerisme ?

Pada saat ini masih banyak hypnotist yang meyakini prinsip mesmerisme, dan tetap menganggap bahwa energi magnet dapat membawa seseorang ke “keadaan hypnos”.

Praktek mesmerisme secara klasik dapat berupa hipnotis dengan dengan melambaikan telapak tangan naik dan turun di depan wajah subyek, dan diyakini sebagai upaya mengeluarkan magnet yang akan membuat subyek memasuki kondisi Hypnosis.

Praktek mesmerisme yang lain adalah mempercayai adanya “thought projection” atau pengiriman gelombang pikiran yang akan mempengaruhi subyek. Sebenarnya teknik semacam ini lebih tepat dimasukkan ke kelompok pengetahuan ESP (Extra Sensory Perception) yang merupakan bagian dari pengetahuan “mind control” (pengendalian pikiran).

Banyak yang berpendapat bahwa Ormond McGill adalah penganut aliran mesmerisme ?

Ormond McGill merupakan tokoh hipnotis besar dunia yang digelari sebagai “The Dean of American Hypnotists”, sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk memahami berbagai fenomena hipnotis di berbagai tempat di dunia, mulai dari praktek mesmerisme sampai dengan ritual “yoga nidra” dari India.

Ormond McGill juga seorang penghibur yang luar biasa dan telah mempertunjukkan stage hypnosis lebih lama dari siapapun juga.

Ormond McGill bukan penganut mesmerisme, tetapi dia dapat mendemonstrasikan nyaris seluruh metode hipnotis yang pernah ada di muka bumi. Mesmerisme hanyalah salah satu metode dari sekian banyak metode favoritnya ketika beraksi di pertunjukkan stage hypnosis.

Selasa, 05 Mei 2009

Sikap & Pola Pikir Positif

Seseorang akan dapat merubah dunia ini jika ia mampumengubah dirinya sendiri. Untuk dapat menciptakan budaya yang sehat dan positifdi dalam lingkungan sekitar kita, maka diri kita juga dituntut untuk bersikaplebih positif. Jadi setiap perubahan mestinya dimulai dari dalam diri kitasendiri, dan yang pertama kali harus diubah adalah pola berpikir kita. Sikapdan pola berpikir sangat erat kaitannya.Dr. William James, Father of America psychology, mengatakan : “We can alter our lives by altering ouraltitudes – Manusia dapat mengubah kehidupannya dengan mengubah sikap dan caraberpikirnya.” Orang yang terbiasa berpikir positif selalu menemukansolusi-solusi cerdas. Sebab pikiran yangpositif dapat bekerja secara sederhana, mencari ide dan segala kemungkinan yangberhasil.Contohnya tentang sebuah kisah antara seorang ayah dan anak :Suatu hari sang ayah sengaja membawa pekerjaan kantor ke rumah supaya semuatugas pekerjaan dapat segera dituntaskan. Tetapi sesampainya di rumah, anaknyamerengek terus mengajaknya bermain. Sang ayah keberatan memenuhi permintaananaknya, maka dicarilah akal supaya anaknya diam dan ia mempunyai kesempatanuntuk menyelesaikan pekaerjaannya.Pada saat itu, ia melihat sebuah majalah yang memuat peta dunia. Muncullah ideuntuk menggunting peta dunia tersebut menjadi beberapa bagian. Setelah itu,sang ayah memberikan potongan-potongan peta dunia itu kepada anaknya serayaberkata, “Nak, kalau kamu sudah selesai menyatukan potongan-potongan kertas ini,maka ayah akan menemanimu bermain.”Sang ayah berpikir bahwa pekerjaan menyatukan potongan peta dunia itu akansulit sekali dan memakan waktu sekurang-kurangnya 30 menit. Sehingga ia dapatleluasa menggunakan jeda waktu tersebut untuk menyelesaikan pekerjaannya.Tetapi tidak lama kemudian, sekitar 5 menit, sang anak sudah kembali kepadaayahnya sambil memberikan potongan-potongan peta dunia yang telah disatukan.Sang ayah tercengang, “Hah, mana mungkin anak sekecil ini sudah tahu dimanaletak America, Afrika. Dan Eropa, Aneh sekali?” Karena potongan peta itubenar-benar terletak pas pada posisi yang seharusnya.Maka dengan penuh keheranan sang ayah bertanya kepada anaknya : “Bagaimana kamubisa melakukannya ?” Keheranan sang ayah terjawab, tatkala anak itu berkata,“Tidak sulit, Ayah, menggabungkan potongan-potongan kertas itu. Karena dibalikgambar peta itu ada gambar kepala manusia. Jadi saya benarkan saja kepalamanusianya, maka benarlah gambar duniaini.”Anak kecil itu sanggup menyelesaikan soal yang sulit sebab ia berpikir secarasederhana saja. Tidak ada prasangka, keinginan untuk dipuji, kebencian danpikiran negatif lain yang mempengaruhi anak tersebut. Ternyata begitu mudahmenemukan solusi cerdas yang mempermudah kehidupan kita dengan berpikirpositif. Jadi apa salahnya kita menerima setiap kenyataan apa adanya, danmemandang sisi positif untuk menemukan solusi cerdas berikutnya. Tanyakan pula,apa ruginya berpikir positif, dan apa untungnya selalu berpikir negatif?Sama sekali tidak ada keuntungan bila kita hanya memikirkan sisi negatif darisetiap kenyataan yang harus kita terima. Yang ada hanyalah belenggu, yangmenyebabkan kita tidak tenang bekerja dan menghambat kemajuan. Dengan berpikirpositif maka kita akan menemukan banyak sekali jalan keluar. Sebaliknya, bilakita berpikir negatif maka kita akan selalu menemukan halangan. John Wooden,mantan pelatih basket UCLA, menegaskan, “Segalanyaternyata paling baik bagi orang-orang yang memetik manfaat dari bagaimanasegalanya terjadi.” So Be Positive !

Pola Pikir Positif dan Negatif Dalam Menciptakan Ide & Inovasi

Sebagian dari manusia mempunyai kelebihan dikarenakan manusia ini mampu berpikir dengan pikiran yang luar biasa dan timbul lah ide baru yang sangat bagus dan lainnya , cara pikir saat ini banya orang yang berkata Tidak atau mana mungkin bisa sulit itu .................. dan masih banyak lainnya , argumentasi ini terjadi dikala pola pikirnya terpaut dengan hukum alam atau hukum dimana manusia itu yang menciptakannya.

Pola pikir ini bisa dirubah dengan cara :
Berpikir lah seakan itu benar-benar terjadi
Jangan Berpikir dan berkata mana mungkin bisa akan tetapi oke akan saya coba itu
Jangan Berkata Tidak akan tetapi berkata iya
Berpikir tanpa mengikuti aturan dari hukum yang ada ( Berpikirlah Positif )
Berpikir lah dengan bebas tanpa mengikuti ide yang sudah ada.
Pola pikir ini masih bisa dirubah dimana saya sendiri jika saya berbicara dengan teman-teman saya banyakan jika saya berkata hal yang tidak mematuhi hukum yang ada ( Suatu ide dan Inovasi ) mereka berkata dengan tidak atau mana mungkin bisa terjadi, hal ini dijadikan oleh saya percobaan dan penelitian saya dalam memahami kehdupan manusia saat ini dan pola pikir masyarakat saat ini dimana 96% pola pikirnya terpaut dengan Hukum-hukum yang ada saat ini.
Jika anda ingin menjadi sukses ( dalam Segala hal ) berpikirah dengan tidak mematuhi aturan dan hukum yang ada dan berpikir lah dengan segi Pemikiran yang positif dan bertindak dengan positif , konotasi ini kala terjadi dalam bentuk kejahatan yang ada di saat ini dimana kala pemikiran cenderung kepada hal-hal pemikiran dan ide yang negatif ( Mencuri , korupsi , mencuri password orang dll ) , ide dan pemikiran negatif ini mampu mencuri sebuah sepeda motor , mobil dll dengan cara yang sangat tidak dimasuk akal dikarenakan dari pemikiran ini tercipta kreatifitas yang sangat hebat akan tetapi sangat disayangkan pola pikir ini adalah perbuatan-perbuatan yang negatif.
Pola pikir masih bisa kita semua merubahnya dengan mencoba berpikir dengan cara - cara positif , dimana hasil yang akan diciptakannya juga akan menjadi positif , Pemikiran negatif sering kali berhubungan dengan segi hawa nafsu dimana Keserakahan dan Kekuasaan menjadi segalanya bagi kita.

Pahami Pola Pikir Manusia Anda akan Mengetahui Rahasianya

Senin, 04 Mei 2009

Memahami Keunikan Diri

Kemajuan hidup bisa kita peroleh dari seberapa besar atau seberapa sulit pertanyaan yang ingin kita jawab dalam kehidupan ini. Maksudnya diri kita yang menjadi jawaban pertanyaan kita sendiri. Misalnya pertanyaan, "Apakah semua orang memiliki kesempatan sukses yang sama?" Kita bisa menjawabnya dengan apakah diri kita bisa sukses dengan segala hambatan dan keterbatasan yang ada. Jika kita bisa menjadi diri yang "sukses" maka pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya. Demikian juga sebaliknya, jika ternyata "gagal", pasti kita juga memiliki data penyebab kenapa kita "gagal".

Untuk mulai menjawab pertanyaan di atas, saya akan mengutip apa yang pernah dikatakan Buckminster Fuller sebagai berikut: All children are born geniuses; 9.999 out of every 10.000 are swiftly inadvertently degeniusized by grownups.

Jadi sebenarnya pada awalnya kita semua sebenarnya memiliki kejeniusan atau bisa dikatakan, memiliki kemampuan otak yang sama. Namun sayang, seiring dengan pertumbuhan, kejeniusan itu terkikis atau menjadi terpendam secara tidak disadari karena pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, masyarakat dan terutama pendidikan.

Untuk lebih jelasnya, saya akan mengisahkan seperti apa yang saya peroleh dari Talk Show Nasional bersama Kak Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak, tanggal 24 Januari yang lalu. Tentunya di sini dengan gaya cerita dan daya ingat saya.

Al kisah, di sebuah hutan-sebut saja Alas Roban--yang dihuni beragam jenis hewan, menteri pendidikan Alas Roban memberlakukan kurikulum sekolah yang sama untuk semua jenis hewan. Semua penghuni Alas Roban dianggap sama, sehingga harus belajar pelajaran yang sama dengan porsi yang sama pula.

Maka di sekolah, ketika pelajaran memanjat pohon, sang harimau dengan mudah naik, sementara itik harus bersusah payah memanjat dan tidak juga berhasil. Si monyet juga hampir menangis ketika mengikuti pelajaran menyelam, sementara katak dengan mudahnya masuk ke air. Demikian juga harimau, hampir tenggelam ketika mati-matian mengikuti pelajaran renang, sementara itik dengan gembiranya beranang di atas air. Ketika pelajaran bergantung di pohon, monyet dengan senangnya berayun-ayun di dahan, sementara si buaya dengan susah payah hanya bisa meraba-raba akarnya. Begitu seterusnya, dengan hewan-hewan lain hingga lambat laun mereka lupa tentang keahlian unik yang ada pada dirinya sejak lahir karena harus mempelajari sesuatu yang bukan bakat atau bidangnya, dan terkadang dipaksakan. Akhirnya, itik menjadi tidak bisa berenang, katak lupa dengan keahliannya menyelam, monyet lupa caranya memanjat pohon, dan harimau hanya bisa mengaum.

Demikianlah dahulu kita menjalani masa pertumbuhan. Karena kita dianggap sama dengan yang lain dan harus belajar sangat banyak hal yang belum tentu itu sesuai dengan keunikan diri kita, akhirnya jadilah diri kita yang sekarang; yang ketika ditanya, "Apa cita-citamu?" Kita hanya geleng-geleng kepala. "Apa bakat atau talentamu?" Kita juga menjawab, "Tidak tahu...".

Yang harus kita pahami di sini adalah keunikan diri yang masing-masing pribadi berbeda. Bahkan pada anak kembar sekalipun, tidak bisa disamakan dalam segala hal. Tetap saja ada perbedaan bawaan lahir yang harus diperhatikan.

Adi W. Gunawan dalam artikelnya yang berjudul "Born To Be A Genius but Conditioned To Be An Idiot", menjelaskan bahwa anak dilahirkan dengan potensi menjadi seorang jenius, namun proses pendidikan yang salah telah membuat anak tidak mampu mengembangkan potensinya secara optimal. Kita tidak menyadari potensi diri yang sesungguhnya. Kalaupun kita tahu dan sadar akan potensi ini, kita merasa tidak mampu untuk mengembangkannya secara optimal.
Hal di atas, masih menurut Pak Adi, menyebabkan anak memiliki konsep diri yang buruk. Adapun cirri-cirinya yaitu:

Pertama, anak tidak atau kurang percaya diri.
Kedua, anak takut berbuat salah.
Ketiga, anak tidak berani mencoba hal-hal baru.
Keempat, anak takut penolakan.
Kelima, anak tidak suka belajar dan benci sekolah.

Kemungkinan besar karena proses pendidikan dan pengaruh lingkunganlah, kita yang pada awalnya memiliki kejeniusan yang sama, namun setelah dewasa menjadi berbeda kualitasnya. Bisa diibaratkan seperti benih tanaman, jika ia tumbuh di tanah yang subur dengan iklim yang sesuai maka bisa dipastikan tanaman itu akan tumbuh seperti yang diharapkan. Beda kasusnya jika meskipun benih unggul, impor pula, namun jika ditanam di tanah yang tandus dan iklimnya tidak sesuai maka bisa dipastikan benih itu tidak akan tumbuh atau mati. Sebagai contoh, saya juga pernah mencoba menanam pohon apel di depan rumah, namun akhirnya mati juga. Ya, karena struktur tanah dan iklim di daerah saya bukanlah tempat yang tepat untuk menanam apel.

Tentang kreativitas seseorang atau suatu bangsa sekalipun; kenapa ada yang bisa menciptakan teknologi tinggi sementara yang lain tidak demikian, menurut saya itu karena kebudayaan, sejarah sosial dan ekonomi, sistem pendidikan, nenek moyang dan nilai hidup yang dianut masing-masing orang atau bangsa itu berbeda. Kita tidak bisa menyamakan diri dengan bangsa Amerika, Eropa ataupun Jepang karena bangsa kita juga memiliki ciri khas sendiri. Bangsa kita dijajah sekitar 3,5 abad dan dahulu berasal dari kerajaan-kerajaan yang bernuansa Hindu, Budha dan Islam. Nenek moyang kita juga petani dan pelaut sesuai dengan keadaan alam Indonesia. Jadi kita boleh kagum dengan Amerika yang bisa membuat satelit, roket dan mendaratkan manusia di bulan, namun kita juga tidak boleh melupakan Candi Borobudur yang masuk dalam tujuh keajaiban dunia.

Kita mungkin kagum dengan bangsa Jepang yang bisa merajai dunia industri elektronik dan kendaraan bermotor, namun kita juga harus bangga memiliki kekayaan budaya dan etnik yang beragam. Mungkin rasa bangga kita kian sirna karena kepribadian kita sebagai bangsa yang besar telah tenggelam oleh laju globalisasi, dan lupa bahwa kita juga memiliki keunikan tersendiri. Hanya kita belum mengoptimalkannya, dan lebih memilih meniru budaya atau teknologi dari luar yang kita nilai lebih canggih. Boleh-boleh saja kita melakukan alih teknologi agar tidak terlalu ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain, tapi kita juga tidak boleh melupakan bahwa negara kita juga masih berbasis pada pertanian dan kelautan; jika kita masih mau melihat potensi alam kita yang ada di ribuan pulau dan luasnya perairan laut yang kita miliki.

Adapun tentang makanan, lauk, minuman, orangtua atau keluarga, menurut saya tidak ada kolerasinya secara langsung dengan "keluarbiasaan" seseorang atau suatu bangsa. Kita bisa bercermin diri mengapa bangsa kita masih tertinggal dari bangsa lain, mungkin itu karena kita sebagai bangsa masih malas, kurang belajar, terlalu pasrah pada keadaan, dan kurang maksimal menggunakan kejeniusan otak kita. Saya juga sering mendengar gurauan bahwa kalau otak manusia itu ada yang menjual maka yang paling mahal adalah otak orang Indonesia. Tahu alasannya? Katanya karena otak orang Indonesia masih orisinil, dengan artian "tidak pernah atau jarang dipakai". Sungguh menyedihkan ya...
Atau semua itu karena takdir?

Apalagi yang ini, tentu tidak masuk akal. Kata seorang mentor saya, "Takdir akan turun jika kita telah berusaha semaksimal mungkin". Jadi tentang hal ini tidak usah dibahas lebih jauh.
Ada tertulis "...Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..."

***

Demikianlah jawaban yang dapat saya kemukakan. Jadi, sudah seharusnyalah kita bisa memahami keunikan diri kita masing-masing. Melihat bahwa kita-sebagai individu maupun bangsa-memiliki potensi dan keunggulan tersendiri yang bisa kita berdayakan agar bisa menjadi manusia atau bangsa yang luar biasa.

Jika kita berfokus pada kelebihan yang melekat pada diri kita maka kemajuan bisa kita peroleh, namun jika kita hanya melihat kekurangan atau keterbatasan yang ada pada diri kita, bisa dipastikan kemajuan atau kesuksesan akan semakin jauh dari jangkauan kita.
Semoga bermanfaat! [AR]

Agus Riyanto
Penulis buku "Born To Be A Champion", bisa dihubungi di webblog http://agusriyanto.wordpress.com atau melalui email: agus4ever@gmail.com.

Merdekakan Diri Dari Penjara Mental

Banyak dari kita tanpa sadar membuat penjara mental untuk dirinya sendiri, sulit menyadari potensi-potensi diri sendiri, dan lebih percaya pada apa yang orang lain katakan tentang kita.
Ketika kita dikatakan, ‘bodoh', maka kita mudah menjawab, dengan mengatakan, "ya memang itu bukan bidang saya", ketika orang mengatakan, kamu tidak cocok menangani kerjaan ini, maka dengan mudah hati kita mengatakan, ‘ya, memang kerjaan ini terlalu sulit untuk saya"
Begitu juga ketika, orang mengatakan : penyakit anda sulit disembuhkann.!, maka pikiran kita langsung mengatakan : memang benar, hidup saya tidak ada harapan lagi.

Saya sebagai orang Indonesia juga sadar, bahwa kebanyakan orang kita umumnya mudah menyerah, pasrah menerima nasib, seolah nasib kita di tentukan oleh lingkungan dan kita sendiri tidak mempunyai tanggung jawab kepada perjuangan hidup kita sendiri, dan kita tidak mau memberontak terhadap apa kata orang, atas apa kata keadaan.

Sudah saatnya kita memerdekakan diri dari belenggu yang kita buat sendiri, yaitu perasaan pesimis dan mudah menyerah, kita tahu kemerdekaan ini adalah jembatan emas, yaitu peluang emas untuk kita mampu menjadi sukses, dan tidak diam dalam penyerahan keputus-asaan.!
Dalam lingkup kerja, jika ada permasalahan, kecenderungan pertama adalah: "bukan bidang saya". Masalahnya, semua bagian departemen menganggap "itu bukan bidang saya". Akhirnya tidak ada yang mengambil tindakan apa-apa. Maka terjadi lingkaran kronis problem tentang siapa yang bertanggang jawab.

Jangan Menyerah
Nancy Mattews Edison (1810-1871) mengatakan: Selalu ada 1001 alasan untuk menyerah, namun orang yang berhasil adalah orang yang tidak memutuskan untuk menyerah. Dia selalu bisa menemukan sebuah alasan untuk tidak menyerah.!

Semua orang akan ingat dan kenal Thomas Alfa Edison yang mempengaruhi sejarah dengan banyak penemuannya, 1.093 paten penemuan atas namanya telah tercipta. Tetapi siapakan dibalik kisah sukses bocah tuli yang bodoh ini, sampai, diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius.? Itulah berkat kegigihan sang bunda Nancy Mattews Edison, ibu yang tidak pernah putus asa, , ibu yang dengan gigih mengajar anaknya sampai mampu membaca dan menulis, ibu yang bersedia kerja keras untuk membangun pribadi dan kepercayaan diri anaknya. ibu yang tidak pernah menyerah dengan keadaaan.! Disinilah letak ‘berani ambil tanggung jawab' maka dengan demikian ibu yang mempunya anak ‘bermasalah' ini, berani memerdekaan dirinya dari belenggu masalahnya, berani menanggung apa yang harus dia lakukan terhadap apa yang terjadi pada hidup dirinya dan anaknya.

Penyakit dalam diri yang merusak, adalah perasaan tidak puas diri, jika tidak puas diri kita tanggulangi dengan perjuangan positif, itu bisa dikasih acungan jempol, tapi jika perasaan tidak puas diri kita perjuangkan secara negatif, kita akan menerima sanksinya sendiri, sebaagi contoh rasa tidak puas diri dengan keadaan diri sendiri, Kita iri melihat orang lain lebih cantik, lebih popular, lebih sukses dalam banyak hal disbanding diri kita, maka dengan serta merta kita berjuang dengan merusak citra diri orang tersebut, berjuang dengan banyak intri ‘kotor'. Dengan demikian kita akan menunggu saatnya, semua orang berbalik membenci kita, dan memuji orang yang membuat kita iri, karena hokum tak tertulis alam semesta, apa yang kita tabor itu yang kita dapat, kita menabur perkataan kotor, kita akan mendapatkan kembali, kita menanbur kebencian, kita akan emperoleh kembali apa yang kita sebarkan sebagai bibit aksi dan reaksi lingkungan.
Tidak ada penyakit lain yang lebih berbahaya dari rasa bangga diri, bangga atas apa yang kita miliki, bangga atas apa yang kita dapat, dan bangga dengan nasib kita, tapi kebanggaan ini versi diri sendiri,.! maka rasa bangga diri yang semu membuat seseorang menajdi budak nafsu ambisinya sendiri. kita selalu hidup mengejar nafsu. Sesungguhnya semua itu adalah fatamorgana. semu.

Nafsu berkuasa atas nasib orang, nafsu untuk merusak orang lain, siang malam merenda apa yang harus dilakukan untuk mengalahkan orang lain, tidurpun tidak nyenyak jika belum puas membuat rusak orang lain, supaya kita terlihat paling ‘bagus', akhirnya nafsu menguasai diri kita, sehingga meruntuhkan kehidupan kita pribadi, sementara orang yang jadi target diinjak untuk jadi papan jungkit mendongkrak citra kita, hidup tenang-tenang saja, mereka tidak merasakan apapun dari ambisi nafsu orang yang bertujuan menjatuhkannya, jadi yang kita kejar lama-lama menjadi hampa. Oleh karena itu. kita harus mengkoreksi diri sendiri dari penyakit-penyakit Ego tersebut
Orang yang sadar sudah membuang penyakit ego, sudah memulai hidup dengan banyak berpikir untuk membahagiakan orang lain, minimal sudah membagikan senyum manis yang penuh optimis untuk orang disekitarnya, dan sudah sadar untuk berbuat demi orang lain, tanpa bertanya, apa untungnya untuk diri sendiri. Secara sadar kita ikhlas berbuat untuk kepentingan orang banyak. Dengan demikian kita tidak lagi hidup dengan Ego pribadi, namun biarkan Jiwa menuntun hidup kita untuk merasa bahagia, dengan bagaimana melayani orang-orang lain.

Jiwa yang sehat, sadar secara spiritual
Spiritual seseorang tumbuh dengan baik, karena adanya pengalaman hidup, yang benar-benar melebur diri dengan apa yang namanya arti hidup. Pengalaman hidup, sangatlah penting untuk dijadikan refleksi dari kehidupan itu sendiri. Bukan berarti kita selalu menengok pada masa lalu, Tetapi kita tetap memfokuskan padangan pada masa depan, tetapi melihat masa lalu untuk pembelajaran. Hal yang sudah terjadi di masa lalu tidak bisa direvisi, tetapi masa depan bisa direncanakan untuk menjadi lebih baik, dengan belajar dari kesalahan di masa lalu.
Pada umumnya, kata spiritual selalu dikaitkan dengan keimanan / kepatuhan seseorang, dalam hal keagamaan yang berkaitan dengan ritual keagamaan itu sendiri. Padahal spiritual dan ritual adalah dua hal yang berbeda, dan sangat terpisah penerapan dan kegunaannya untuk kesehatan jiwa kita.

Spiritual, bisa dikatakan sebagai refleksi hidup, yang erat dengan keterbukaan, bersifat mudah menerima, sabar, terbuka dengan wawasan baru, dan sadar bahwa yang dalam hidup ini lebih besar yang belum kita jalankan, bahkan lebih banyak yang belum kita ketahui, daripada yang kita pikirkan.

Umumnya di masyarakat, banyak yang terjebak dalam tidak bisanya membedakan antara Ritual dan Spiritual, maka terjadilah hal-hal yang menyesatkan bahkan pertikaian antar agama, banyak disebabkan karena kesehatan jiwa teracuni oleh ketidak pahamnya untuk bertoleransi pada ritual-ritual masing-masing kepercayaan.

Spiritual sifatnya universal, tidak terbatas, terkotak-kotak. Tapi ritual indentik dengan keyakinan dan kebiasaan masing-masing orang, yang dalam hal ini sebagai salah satu contoh ritual keagamaan. Maka kerancuan terjadi, banyak orang selalu menkaitkan orang yang melakukan ritual keagamaan tertentu dengan rajin dan patuh adalah orang yang spiritualnya tinggi. Padahal itu belum tentu.

Nah disinilah letak perbedaan, bahwa spiritual seseorang bisa menyehatkan jiwanya, walaupun dia tidak melakukan ritual-ritual, jika dia mampu merefleksikan spiritualnya dalam bentuk perbuatannya, yang mendatangkan kedamaian/ keharmonisan jiwanya dan lingkungannya. Sedangkan ritual-ritual belum tentu mampu mendatangkan kedamaian/ keharmonisan jiwanya sendiri dan lingkungannya jika tidak adanya refleksi spiritual dalam hidup.

"Niat Batin" lebih kuat dari keinginan otak (yang dipikir) maka orang yang berkutat dengan ego mau menang terus, umumnya orang yang belum mengerti arti ‘melebur' hidup pada kehidupan itu sendiri. Dia perlu kekuatan yang dalam hal ini, berbentuk pelepasan intrik-intrik membangun citra diri semu, dengan keliaran ambisi, bahwa dia harus tetap jadi pemeang, orang lain hanya pecundang yang malang.! Sungguh kasihan jiwa-jiwa yang terbelenggu dengan penjara mental yang diciptakan sendiri dan untuk dipakaikan pada dirinya sendiri

Pengalaman Melawan Kanker Membuat Weijden Berjaya

Pengalaman memang merupakan sesuatu yang berharga yang dapat menjadi pelajaran untuk meraih impian. Ya, inilah yang dialami oleh perenang Belanda, Maarten van der Weijden. Pengalamannya melawan kangker ternyata membantunya mewujudkan impiannya meraih emas Olimpiade di nomor renang marathon 10 kilometer putra.

Penyakit leukemia yang diidapnya sejak tahun 2001 membuat dia belajar berpikir secara bertahap. "Saat kau merasa kesakitan di rumah sakit dan lelah, kau tidak akan memikirkan apa yang akan terjadi sejam atau sebulan berikutnya, kau hanya akan memikirkan apa yang akan terjadi sesaat lagi," paparnya yang dikutip dari detik.com.

Penyakit yang dideritanya mengajarkan dirinya untuk bersabar berbaring di rumah sakit dan kesabaran itulah yang menjadi kunci ia meraih medali emas di Olimpiade Beijing 2008. Sebelumnya Weijen juga berhasil keluar sebagai juara dunia 25 km di Spanyol awal tahun ini.

Ternyata pengalaman menjadi pembelajaran yang berharga bagi seseorang dan hal ini yang dialami Weijden sehingga ia mampu memetik prestasi puncak dengan meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008.