SOLUSI CERDAS MENCAPAI KEBAHAGIAAN
Contact Tables

I edited my layout at Bigoo.ws, check out these Myspace Layouts!

Senin, 28 Desember 2009

Merevolusi Pendidikan Berbasis Teknologi




TAK bisa dimungkiri, perkembangan teknologi saat ini mendorong terjadinya revolusi pada bidang pendidikan. Penguasaan teknologi harus menjadi salah satu tolak ukur kualitas pendidikan kita.

Fenomena sosial ini kemudian menuntut peningkatan kualitas profesionalisme para pendidik ataupun guru di sekolah. Siswa didik mendapatkan pengetahuan luas berbasis teknologi secara kontekstual, terarah serta up to date secara global.

Kuatnya arus teknologi merupakan implikasi dari dinamika zaman yang kini sedang berubah menuju ke tatanan global. Thomas L Friedman (2000) telah menegaskan kepada kita bahwa perubahan kualitas modal manusia bukan lagi bersifat otot, melainkan otak. Jika di zaman modern, mobilitas produksi hanya terfokus pada tenaga kuda dan mesin, maka di zaman posmodern (era teknologi global 3.0) justru telah bergeser kepada teknologi semacam internet dan WWW (world wide web) ataupun komputer.

Karena itulah masyarakat dituntut adaptif terhadap dunia yang semakin kaya akan informasi dan pengetahuan yang bergerak di dalam dunia virtual setiap detik. Ketertinggalan informasi di dunia virtual justru akan mengakibatkan ketertinggalan dalam aspek pendidikan. Sebab, di dunia maya itu terdapat banyak materi pelajaran yang sangat berharga bagi pengayaan proses pembelajaran peserta didik.

Seperti sejarah dunia, kewirausahaan (enterpreneurship), way of life, motivator learning, kondisi sosial, politik serta ekonomi bangsa, hingga teori-teori segala macam pelajaran. Hal apa yang tidak terakomodir dalam buku pelajaran di sekolah justru bisa didapat secara lengkap di internet. Apalagi, kini e-books disertai audio visual sudah membanjiri dunia maya. Siswa bisa belajar dari sana tanpa harus didampingi oleh guru di sekolah.

Guru atau pendidik yang tidak dapat berpacu dengan perkembangan teknologi semacam itu bisa dipastikan akan mengalami masalah. Guru akan bisa kalah dengan siswanya yang aktif meng-update pengetahuannya. Ini terkadang membuat para guru kehilangan kharisma dan wibawanya. Ambil kasus di Tiongkok misalnya. Di era 2005 silam, ada seorang guru yang bunuh diri karena dia tidak bisa menyaingi suatu pengetahuan siswanya yang didapat dari internet.

Di Jerman, ada seorang guru yang mengundurkan diri dari profesinya karena para siswa dianggap lebih pintar daripada dirinya. Bagaimana tidak lebih pintar, siswanya saja sudah membawa laptop ke sekolah dan suka mengakses internet pada saat jam istirahat (Nugroho, 2006). Sementara itu gurunya masih sibuk mengurusi proyek di sana-sini.

Itu sebabnya, di negara eropa dan negara maju ada fasilitas internet dan laptop gratis kepada guru dan pendidik. Bahkan, pemerintah di sana juga membantu biaya pendidikan warganya yang berniat menjadi guru secara penuh agar bisa memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni terutama dalam hal edukasi-teknologi. Tidak heran jika kelayakan mengajar dan kualitas kompetensi guru di negera Eropa dan maju sangat baik. Bahkan, untuk guru setingkat play group saja banyak yang sudah berijasah sarjana.

Ironi Guru

Di negeri kita, kondisi seperti di atas sungguh jauh berbeda. Masih banyak guru kita yang belum layak mengajar. Beradasarkan data Unesco beberapa waktu lalu, paling tidak ada 93% guru SD yang tidak layak mengajar, 33% guru SMP, serta 43% guru SMK/SMA. Salah satu indikatornya adalah gelar kesarjanaan yang mereka sandang. Ini jika diekplorasi lebih jauh, setidaknya sekitar 30% saja guru di negeri ini yang berijasah S1 dan DIV. Sungguh ironis.

Padahal, banyak orang mengatakan bahwa hampir 70% guru di negeri kita sudah bersertifikasi. Artinya, seyogyanya guru kita mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perkembangan teknologi informasi sekarang ini. Sertifikasi ini adalah simbol kemajuan dan keprofesionalitasan tenaga pendidik. Tolok ukur kemajuan ini bisa dilihat dari sejauh mana mereka mengikuti perkembangan zaman di era global. Sayangnya, di lapangan banyak ditemukan guru yang mendidikan dengan gaya yang tradisional.

Mereka lebih senang berceramah di depan kelas dan siswa hanya dicekoki materi pelajaran. Kapur, spidol, dan papan tulis masih menjadi primadona kebanyakan guru dalam mengajar siswanya. Sementara, OHP, Laptop, netbook, audio visual, koran dan tv elektronik, serta media pembelajaran yang hightech belum banyak digunakan oleh mereka di kelas.

Akibatnya, para siswa pun hanya mampu hapal teks pelajaran tetapi tidak paham esensinya secara nyata. Mereka pun hanya tahu tentang teori kemiskinan tapi tidak tahu yang dimaksud siapa orang miskin sesungguhnya itu dan apa pengaruhnya bagi dunia ekonomi, politik dan jati diri bangsa kita. Mereka juga tahu teori wirausaha, tapi masih meraba-raba apa sesungguhnya wirausaha di dalam kehidupan kita.

Kendala pembelajaran seperti itu bisa sedikit dipecahkan apabila setiap sekolah memiliki fasilitas ICT atau TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Seperti yang telah dilakukan pemerintah Amerika baru-baru ini. Ada program OLPC (Only Laptop Par Children) atau pemberian laptop bagi siswa sekolah. Revolusi edukasi berbasis teknologi ini digagas oleh ahli komputer dari MIT-AS, Nicholas Negroponte.

Namun, negeri kita masih dililit oleh krisis pendanaan kontruksi fasilitas edukasi di berbagai daerah. Jangankan membagikan laptop gratis untuk siswa dan guru, fasilitas laboratorium saja masih sangat terbatas dananya. Di Surabaya misalnya, hanya ada 22% laboratorium komputer dari total sekolah yang ada. Jadi, rasio komputer dengan siswa di sana hanya 1:61. Ini masih jauh dari rasio ideal 1:2.

Persoalan krusial seperti itu yang harus segera mungkin dipecahkan oleh semua komponen bangsa Indonesia demi membangkitkan kualitas pendidikan nasional kita di era teknologi. Setidaknya, pemerintah dan pihak swasta perlu mengalokasikan dana pembangunan dan pengembangan sarana pembelajaran yang berbasis teknologi tinggi bagi guru dan siswa di sekolah.

Mereka pula harus membantu menyekolahkan para guru yang masih belum sarjana agar bisa bersaing dengan bangsa lain.
Nah, bila semua kebutuhan pendidikan berbasis teknologi seperti itu sudah terpenuhi dengan maksimal, maka pendidikan bangsa kita tidak akan jauh tertinggal dengan bangsa lainnya di dunia. (80)

—Ardhie Raditya, M.A, sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unesa Surabaya

Tidak ada komentar: